Memoriam: JAKARTA DALAM CANDA

Dalam tulisan ini saya ingin berbagi sedikit informasi bagi kartunis muda (termasuk saya) bahwa di tahun 1981 para kartunis senior kita seperti GM. Sudarta, Pramono, Dwi Koen, Jaya Suprana serta para pelukis seperti Hardi, Budi SR, potograper Kompas Kartono Riyadi beserta kartunis lainnya yang tergabung dalam PERTAMOR (Perhimpunan Pecinta Humor) pernah mengadakan pameran kartun di Taman Ismail Marzuki (TIM) bertajuk 'JAKARTA DALAM CANDA'.

Dalam rangka memperingati HUT Jakarta ke-454, Lembaga Humor Indonesia (LHI) yang dimotori oleh Arwah Setiawan yang konon atas biaya sendiri sekitar Rp. 300.000-an mengadakan pameran humor bertempat di ruang pameran Taman Ismail Marzuki. Pameran yang dilaksanakan dari tanggal 1 sampai 10 Juli bertajuk "JAKARTA DALAM CANDA".

Selain menampilkan gambar kartun, ada juga lukisan serta poto bertema humor. Sayangnya dalam perhelatan tersebut tidak banyak kartunis dari daerah yang ikut ambil bagian, salah satunya PAKYO (Paguyuban Kartunis Yogyakarta) yang terkenal produktivitasnya dalam membuat kartun.

Sementara dari Jakarta Sendiri tidaklah banyak yang ikut, hanya beberapa nama seperti Dwi Koen, GM sudarta dan Pramono dengan menampilkan banyak karyanya yang dibuat sekitar tahun 1975-an.

Meskipun demikian, pameran tersebut tidak membuat pemandangan jadi monoton. Hal ini mungkin dikarenakan munculnya lukisan humor dari cat minyak dari seniman-seniman yang memang sudah terkenal seperti pelukis Hardi yang menampilkan karyanya yang berjudul "kaki Lima" serta karya barunya yang bercorak pop art.

Sedangkan dedengkot ludruk Bronksonk, Budi SR yang bergaya surrealisme ternyata mampu memancing audience tersenyum. Budi SR membuat lukisan humor seekor kuda yang jatuh jumpalitan, di sebelahnya, seorang ibu yang menggantung dengan seutas tali yang dipegangi bayinya. Sehingga timbul kesan ada humor dalam sadisme dan sadisme dalam humor, yang mana si ibu yang manusia itu sampai hati menyiksa anaknya, sedangkan si kuda yang binatang tidak tahan melihatnya.

Sementara kartono Riyadi dari Kompas menampilkan poto humornya antara lain seorang yang menjunjung ikatan ijuk di kepalanya diberi judul "kribo". seorang yang sedang menimang monyet diberi judul "mirip".

Tak mau ketinggalan, kelompok yang berasal dari Semarang dan kabarnya baru saja terbentuk yaitu PERTAMOR (Perhimpunan Pecinta Humor) ikut serta ambil bagian dalam pameran tersebut dengan seabrek karyanya.
(apat/diolah dan diringkas dari majalah HUMOR no.032 15 Juli 1981 yang harganya masih Rp.600 perak)



Kartunis yang hadir pada pembukaan "Jakarta Dalam kartun".
Pramono (kiri), Dwi Koendoro (tengah), Jaya Suprana (kanan).






Karya Dwi Koendoro
Karya Pramono
Karya Libra
Karya GM. Sudarta

PAMERAN KARTUN & KARIKATUR "HWARAKADAH A TRIBUTE DWI KOEN"

www.apatcartoon.blogspot.com-Dalam menyambut ulang tahun Dwi Koendoro Brotoatmodjo atau yang lebih popular dengan panggilan Dwi Koen BR yang genap berusia 70 tahun, Kompas bersama Persatuan Kartunis Indonesia (PAKARTI) Jakarta menyelenggarakan pameran kar tun dan karikatur bertajuk “Hwarakadah! A tribute to Dwi Koen BR” di lobi Kompas, Jakarta, dari tanggal 13 hingga 15 Mei 2011.

Pembukaan Pameran yang dibuka pada hari Jumat, 13 Mei 2011 pukul 19.30 wib dihadiri oleh Ketua Pakarti Jakarta Yan Praba serta Wakil Pemimpin Redaksi harian Kompas Trias Kuncahyono.

Dalam sambutanya, Yan Praba meminta agar para kartunis kita khususnya kartunis muda bisa mencontoh semangat pak Dwi Koen dalam berkarya. “Semangat dari beliau (Dwi Koen) diharapkan bisa diteruskan oleh generasi muda,” imbaunya.

Sementara itu Wakil Pemimpin Redaksi harian Kompas Trias Kuncahyono dalam sambutanya lebih menekankan akan pentingnya kesetiaan pada profesi.

Lelaki kelahiran Banjar Jawa Barat, 13 Mei 1941 ini memulai debutnya di media cetak pada tahun 1961. Salah satu karyanya adalah Panji Koming yang muncul pertama kalinya di harian Kompas pada 14 Oktober 1979 hingga saat ini.

Lewat karakter tokoh yang diciptakannya (Panji Koming, Pailul, Ni Woro Ciblon, Dyah Gembili, Denmas Aria Kendor serta kawan-kawannya) senantiasa mengeritik para pejabat negeri ini yang melakukan penyelewengan, korupsi serta nepotisme.

Selain menampilkan karya-karyanya selama tiga dekade, disajikan pula aktivitasnya sebagai illustrator, pembuat komik, dan pembuat film. Ia juga seorang sutradara, penulis skenario dan editor.

Dalam meramaikan pameran ini, para kartunis yang tergabung dalam wadah Pakarti turut pula mengambil bagian memamerkan karya karikatur wajah Dwi Koendoro.(apat)